Sharing Bareng Kang Sulis merupakan sebuah blogger yang berisikan tema Pendidikan.. Apabila ada kesamaan isi blog dengan blog lain dan ketidaksesuaian upload file kami mohon maaf.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Eko Sulistiyanto

Foto ini diambil pada saat Lokakarya Guru Penggerak Angkatan 4 Kabupaten Boyolali

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 21 April 2022

JURNAL REFLEKSI MINGGUAN MODUL 2

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,

Dalam pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001).

Dalam pembelajaran daring pada Pendidikan Guru Penggerak, jurnal yang ditulis setiap minggu ini menjadi media untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah dilakukan. Dengan memiliki rekam jejak yang berkelanjutan seperti ini, Anda akan terdorong untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang Anda latih dan uji cobakan. Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga Anda dapat semakin mengenali diri sendiri.

Sama halnya dengan keterampilan lainnya, menulis jurnal refleksi pun perlu latihan dan pembiasaan agar dapat dirasakan manfaatnya. Pada awalnya, mungkin tidak mudah untuk menuangkan gagasan reflektif ke dalam tulisan. Karena itu, untuk membantu Anda, kami memberi contoh bagaimana refleksi yang baik, walaupun ditulis secara singkat. 

Pada tautan dibawah ini disajikan beberapa model refleksi yang dapat Anda gunakan. Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat di setiap model tersebut berfungsi untuk memandu Anda dalam mencurahkan isi pikiran dan perasaan Anda. Tuliskan jawaban dari pertanyaan tersebut dalam bentuk paragraf (tidak dalam poin-poin bernomor). Cobalah untuk memvariasikan model yang berbeda di setiap minggunya.

2.1.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 9 

2.1.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 10

2.1.a.10.3. Jurnal Refleksi - Minggu 11

2.2.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 12

2.2.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 13

2.3.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 14

2.3.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 15

2.3.a.10.3. Jurnal Refleksi - Minggu 16

2.3.a.9. Koneksi Antarmateri - Coaching

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,

Pada fase ini Anda diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di Modul 2: Pembelajaran yang berpihak pada murid dan membuat sebuah koneksi antar materi belajar yang sudah Anda lakukan.

Untuk memudahkan Bapak/Ibu CGP dalam merajut pemahaman dari berbagai materi, ada tiga penugasan yang perlu dilakukan. 

Instruksi Penugasan

  1. Buatlah sebuah kesimpulan dan refleksi yang disajikan dalam bentuk media informasi. Format media dapat disesuaikan dengan minat dan kreativitas Anda. Contoh media yang dapat dibuat: artikel, ilustrasi, grafik, video, rekaman audio, screencast presentasi, artikel dalam blog, dan lainnya.
  2. Bacalah pertanyaan-pertanyaan panduan berikut untuk membantu Anda membuat kaitan tersebut.
  3. Buatlah sebuah kesimpulan dan penjelasan mengenai peran Anda sebagai Penuntun (Sistem Among) atau seorang Coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya di Modul 2 yakni Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Emosi dan Sosial. 
  4. Buatlah sebuah refleksi dari pemahaman atas keseluruhan materi Modul 2.3 bagaimana keterampilan coaching dapat membantu profesi Anda sebagai guru dalam menjalankan pendidikan yang berpihak pada murid. 
  5. Unggahlah bagan atau artikel ini pada laman LMS.
Jawaban :

2.3.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pendampingan Murid dengan Pendekatan Coaching dalam Komunitas Sekolah Saya

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,

Setelah melakukan refleksi terbimbing, tentunya Anda sudah memiliki bekal yang cukup untuk melakukan praktik coaching lebih lanjut. Pada pembelajaran keenam ini Anda akan melakukan satu (1) praktik kegiatan coaching nyata di sekolah tempat Bapak Ibu berasal sesuai dengan model TIRTA. Coachee dapat merupakan murid atau rekan kerja dengan instruksi sebagai berikut.

Instruksi penugasan

  1. Sediakan media perekam video Anda. Media dapat menggunakan telepon seluler (handphone) Anda ataupun media lainnya.
  2. Pastikan Anda dan Coachee menyediakan waktu secara khusus selama 20-30 menit untuk praktek coaching ini. Coachee perlu diberi tahu bahwa sesi coaching ini akan direkam untuk keperluan program dan hanya akan didengar oleh fasilitator.
  3. Setelah selesai melakukan praktek coaching, periksa rekaman Anda dan berikan nama file seperti berikut: Nama Lengkap-CGP Angkatan - Sekolah Asal
  4. Contoh: Shirley Puspitawati-CGP Angkatan 1-SMA Asih
  5. Unggah file rekaman video yang sudah diberi nama ke google drive akun Anda. Jangan lupa untuk memastikan bahwa tautan google drive Anda sudah diset Shared/Dibagikan.
  6. Kirimkan tautan video yang telah diunggah di google drive Anda sesuai petunjuk bawah ini.

2.3.a.6. Refleksi Terbimbing

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,

Anda telah sampai pada fase refleksi terbimbing. Inilah saatnya Anda merenung, mengingat kembali, dan melakukan refleksi mendalam mengenai hal-hal yang telah Anda pelajari pada modul coaching ini. Silakan jawab pertanyaan berikut ini:

Tugas 5

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk melakukan refleksi:

1. Sebelum mempelajari modul ini,

saya pikir bahwa coaching

coaching merupakan komunikasi dalam upaya mengidentifikasi dan menyadarkan adanya suatu hambatan atau masalah dalam proses pembelajaran murid, guru dan tendik untuk bersikap dan berperilaku sesuai harapan serta membantu orang tersebut untuk mengatasinya.

saya merasa bahwa coaching

Saya merasa bahwa coaching merupakan komunikasi untuk memberikan solusi dan penyelesaian terhadap persoalan yang dialami murid maupun guru itu sendiri melalui cara bimbingan dan arahan dari guru atau rekan sejawat lain di sekolah.

2. Setelah mempelajari modul ini,

saya pikir bahwa coaching

Coaching adalah  suatu proses komunikasi atau metode yang berguna untuk mengidentifikasi, mengembangkan keterampilan dan kemampuan, dan meningkatkan kinerja sumber daya yang ada pada coachee untuk menemukan jawaban atas berbagai tantangan yang dihadapi oleh coachee tersebut

saya merasa bahwa coaching

Saya merasa bahwa coaching dapat mendukung pembelajaran antara coach dan coachee  demi membantu mereka dalam meraih tujuan pribadi atau tujuan profesional bersama bersama susuai yang diharapkan. coaching juga dapat membantu coachee dalam menggali jadi dirinya untuk lebih percaya diri dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.

3. Dari teknik keterampilan coaching yang saya pelajari, teknik yang perlu saya kembangkan dan latih adalah

komunikasi Asertif

karena

dengan sikap dan komunikasi asertif dapat membangun metal yang positif  seingga akan menumbuhkan rasa percaya diri dalam melakukan komunikasi secara singat

4. Kendala yang saya hadapi ketika melakukan pendampingan dengan pendekatan  coaching dalam Komunitas Praktisi adalah

  1. Meluangkan waktu untuk proses coaching
  2. Dalam menemui coachee yang tidak terbuka dalam melakukan identifikasi masalah, masih bingung atau grusa grusu dalam komunikasi
  3. tidak menguasai teknik choacing yang benar

5. Upaya yang saya lakukan dalam menghadapi kendala tersebut adalah

  1. Bersikap tenang dan percaya diri dalam melakukan coaching
  2. Tidak terburu-buru dalam memberikan solusi, dan lebih fokus menjadi pendengar dan membangkitkan kepercayaan coachee

2.3.a.5.3. Ruang Kolaborasi (Unggah Hasil Rekaman)

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,

Saat ini Anda akan mempraktekkan kasus-kasus yang telah disediakan secara tatap maya bersama fasilitator. Pastikan Anda bersama kelompok telah berlatih mempraktekkan kasus-kasus tersebut sesuai dengan langkah-langkah dalam praktik coaching model TIRTA. Nah, pada sesi ini, praktik yang dilakukan dalam kelompok Anda akan direkam dan untuk selanjutnya dikirimkan ke fasilitator. 

Hasil rekaman dapat diberi nama: Nama Lengkap-CGP Angkatan - Sekolah Asal. Contoh: Shirley Puspitawati-CGP Angkatan 1-SMA Asih

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,

Setelah secara mandiri Anda mempelajari konsep coaching di konteks pendidikan, komunikasi yang memberdayakan dan model coaching, sekarang saatnya mendiskusikan hasil pemahaman Anda mengenai hal-hal tersebut.

Tentunya Anda sudah memahami mengenai coaching dalam konteks pendidikan, bagaimana komunikasi yang memberdayakan sebagai keterampilan dasar coaching, dan model TIRTA. Silakan renungkan pertanyaan-pertanyaan ini.

  1. Adakah pergeseran paradigma berpikir Anda ketika Anda berhadapan dengan situasi  yang dialami baik oleh rekan sesama pendidik maupun murid Anda?
  2. Sebagai pendidik, mengapa Anda memerlukan keterampilan coaching selain keterampilan yang lainnya?
  3. Salah satu prinsip coaching adalah kemitraan yang setara. Apakah kendala yang akan Anda hadapi ketika harus menempatkan diri Anda pada posisi yang setara dengan murid sebagai coachee?

Setelah merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas, simaklah video mengenai coaching model TIRTA berikut.


Selanjutnya, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
  1. Apa yang dilakukan coach dalam membantu coachee mengenali situasi  (permasalahan atau tantangan) yang dihadapi coachee? 
  2. Bagaimana cara coach memberi respons terhadap situasi yang dihadapi coachee? (perhatikan secara cermat sikap dan perilaku coach)
  3. Apakah praktek coaching model TIRTA dapat dipraktekkan dalam situasi dan konteks lokal kelas dan sekolah Anda? apa tantangan utama Anda dalam melakukan praktek coaching model TIRTA?
  4. Siapakah yang dapat membantu Anda melatih praktek coaching model TIRTA di kelas dan sekolah Anda? Bagaimana Anda melibatkan mereka?

Jawaban :
  1. Apa yang dilakukan coach dalam membantu coachee mengenali situasi  (permasalahan atau tantangan) yang dihadapi coachee?  Jawab : yang dilakukan coach pertama kali adalah membantu coachee dalam mengenali masalah yang dihadapinya dengan melakukan pendekatan dan komunikasi asersif supaya coachee nyaman. Dalam komunikasi yang dilakukan coach dapat menerapkan model TIRTA dengan menggali tujuan, mengajukan pertanyaan yang reflektif untuk idenifikasi, berusaha meningkatkan kepercayaan dengan menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya. Coach mendampingi coachee dalam memilih dan menentukan informasi hasil komunikasi dan natinya akan dijadikan rancangan aksi nyata penyelesaian. Langkah terakhir coach mendampingi dalam menjalankan rencana aksi sampai masala bisa teratasi.
  2. Bagaimana cara coach memberi respons terhadap situasi yang dihadapi coachee? (perhatikan secara cermat sikap dan perilaku coach) Jawab: Coach memberikan pertanyaan dengan seni bicara yang halus dan tidak memaksa, supaya coachee merasa aman, nyaman, dan dihargai. Choach menjadi pendengar baik dan sabar, apa yang sudah disampaikan oleh coachee. Coach berusaha tertarik dengan apa yang telah diceritakan oleh coachee denga tidak memotong pembicaraan, sabar untuk tidak segera memberikan solusi
  3. Apakah praktek coaching model TIRTA dapat dipraktekkan dalam situasi dan konteks lokal kelas dan sekolah Anda? apa tantangan utama Anda dalam melakukan praktek coaching model TIRTA? Jawab : Praktek coaching model TIRTA sangat cocok dilakukan dikelas maupun disekolah baik dalam mengatasi masalah murid, karyawan, maupun guru. Tantangan utama dalam melakukan choacing adalah menghadapi coaches yang pasif dan tidak terbuka dengan masalah yang dihadapi.karena dengan masalah ini coach kesulitan menapatkan informasi yang diharapkan.
  4. Siapakah yang dapat membantu Anda melatih praktek coaching model TIRTA di kelas dan sekolah Anda? Bagaimana Anda melibatkan mereka?Jawab : Yang dapat membantu saya dalam mempraktikkan choacing disekolah adalah semua warga sekolah baik itu guru, karyawan dan siswa. Dalam melakukan coaching saya kan melibatkan dan Kerjasama atau berkolaborasi dengan Kesiswaan, wali kelas dan guru bimbingan konseling. dalam pelaksanaan coaching disekolah saya akan mengindentifikasi masalah yang dihadapi, kemudian mengkomunikasikannya dengan dengan pihak – pihak terkait dalam menentukan solusi bersama.

2.3.a.4.3. Eksplorasi Konsep - TIRTA Sebagai Model Coaching

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,

Terima kasih Anda masih meluangkan waktu untuk bereksplorasi secara mandiri mengenai konsep coaching di konteks pendidikan dan komunikasi yang memberdayakan sebagai salah satu keterampilan dasar coaching.  Sekarang, saatnya Anda mempelajari tentang satu model coaching yang akan Anda praktekkan yaitu TIRTA: satu model coaching yang dapat membantu peran coach dalam membuat alur percakapan menjadi lebih efektif dan bermakna.

TIRTA Sebagai Model Coaching

TIRTA dikembangkan dari satu model umum coaching yang dikenal sangat luas dan telah banyak diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will. Pada tahapan 1) Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini, 2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, 3) Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. 4) Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching.  Hal ini penting mengingat tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. Melalui model TIRTA, guru diharapkan dapat melakukan pendampingan kepada murid melalui pendekatan coaching di komunitas sekolah dengan lebih mudah dan mengalir.

TIRTA kepanjangan dari

T: Tujuan

I: Identifikasi

R: Rencana aksi

TA: Tanggung jawab

Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Anda, sebagai guru memiliki tugas untuk menjaga air itu tetap mengalir, tanpa sumbatan.

Tugas Anda adalah menuntun atau membantu murid (coachee) menyadari bahwa mereka mampu menyingkirkan sumbatan-sumbatan yang mungkin menghambat perkembangan potensi dalam dirinya.

Dengan demikian, bagaimana cara Anda menjaga agar dapat menyingkirkan sumbatan yang ada? Jawabannya adalah keterampilan coaching.


Tujuan Umum

TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tujuan Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee)

Dalam tujuan umum, beberapa hal yang dapat coach rancang (dalam pikiran coach) dan yang dapat ditanyakan kepada coachee adalah:

a. Apa rencana pertemuan ini?

b. Apa tujuannya?

c. Apa tujuan dari pertemuan ini?

d. Apa definisi tujuan akhir yang diketahui?

e. Apakah ukuran keberhasilan pertemuan ini?

Seorang coach menanyakan kepada coachee tentang sebenarnya tujuan yang ingin diraih coachee.


Identifikasi

Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi)

Beberapa hal yang dapat ditanyakan dalam tahap identifikasi ini adalah:

a. Kesempatan apa yang kamu miliki sekarang?

b. Dari skala 1 hingga 10, dimana kamu sekarang dalam pencapaian tujuan kamu?

c. Apa kekuatan kamu dalam mencapai tujuan

d. Peluang/kemungkinan apa yang bisa kamu ambil?

e. Apa hambatan atau gangguan yang dapat menghalangi kamu dalam meraih tujuan?

f. Apa solusinya?


Rencana Aksi

Rencana Aksi (Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat)

a. Apa rencana kamu dalam mencapai tujuan?

b. Adakah prioritas?

c. Apa strategi untuk itu?

d. Bagaimana jangka waktunya?

e. Apa ukuran keberhasilan rencana aksi kamu?

f. Bagaimana cara kamu mengantisipasi gangguan?


TAnggungjawab

TAnggungjawab (Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya)

a. Apa komitmen kamu terhadap rencana aksi?

b. Siapa dan apa yang dapat membantu kamu dalam menjaga komitmen?

c. Bagaimana dengan tindak lanjut dari sesi coaching ini?


Model TIRTA

Dengan menjalankan metode TIRTA ini, harapannya seorang guru dapat semakin mudah dapat menjalankan perannya sebagai coach. Gambar model TIRTA berikut ini dapat membantu Anda agar lebih terarah dalam melakukan sesi coaching.


Setelah memahami langkah-langkah proses coaching dalam model TIRTA, mari berefleksi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

Question #1
Dari semua langkah dalam model TIRTA, langkah manakah yang menurut Anda paling menantang? Mengapa?
Menurut saya hal yang menantang adala identifikasi dan rencana aksi. Dalam identifikasi coach harus mampu mencari dan menggali kesulitan, menentukan jenis dan sifat kesulitan yang dihadapi oleh coaches. Apalagi coaches tersebut pasif dan lebih tertutup. Dalam membuat rencana aksi seorang coach arus mempunyai strategi yang tepat supaya tujuan bisa tercapai dengan baik. Dalam melakukan rencana aksi coach harus banyak ide, arus menggali potensi dan ketrampilan dalam menyelesaikan masalah. apalagi jika kita memiliki berbagai hambatan yang akan mempersulit rencana kita, di sana kita dituntun untuk bisa membuat rencana alternatif.

Question #2
Kendala apakah yang mungkin akan Anda hadapi ketika Anda menggunakan langkah-langkah dalam model TIRTA ketika berupaya melakukan sesi coaching dengan murid Anda di sekolah?
Coaches tidak terbuka dan terlihat pasif saat coach melakukan identifikasi masalah
Tujuan dari coaching tidak dipahami oleh coach dan coaches sehingga terjadi mis komunikasi diantara keduanya
Coaches tidak menjalankan tugasnya dengan baik dalam mengemukakan rencana aksi yang dikerjakan